Friday, 1 January 2021

MOMENTUM PELAKSANAAN MODERASI BERAGAMA HINDU PADA MASA PANDEMI COVID-19

 

Oleh : Rino Susilo


Munculnya pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) telah mengguncang seluruh wilayah Indonesia bahkan dunia yang tak kunjung usai dan belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Pemerintah menyerukan aturan-aturan kebijakan dengan istilah sosial distancing hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Masyarakat diminta untuk berdiam diri dirumah (stay at home), siswa belajar dari rumah (study at  home), kerja dari rumah (work from home), dan berdoa dari rumah (pray at home). Namun kebijakan ini tidak sedikit dari masyarakat yang menentangnya. Banyak dari masyarakat yang mengeluh karena sumber penghasilannya memaksakan mereka harus keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anak-anaknya yang sekolah karena memerlukan kuota internet. Misalnya saja dilansir dari radarbali.jawapos.com wisatawan mancanegara yang datang minus 99,93 % pada bulan April 2020 dibandingkan dengan bulan Maret 2020. Bali yang menjadi salah satu pendorong perekonomian menurun drastis yang sebelumnya ramai wisatawan datang dari berbagai negara nampak terlihat sangat sepi. Sehingga pedagang kehilangan pembeli. Seruan beribadah dari rumah juga menjadi permasalahan karena dianggap dapat mengurangi kadar keimanan. Pemandangan-pemandangan kegiatan umat beragama terlihat berbeda dari sebelumnya, tempat-tempat ibadah terlihat seakan-akan tidak memiliki umat. Tempat perziarahan besar seperti  Ka’bah yang tiba-tiba sepi bahkan suatu hari tertentu Ka’bah menjadi kosong tak memiliki pengunjung. Untuk mengatasi permasalahan ini akhirnya pemerintah memutuskan kebijakan baru yaitu dengan melaksanakan tatanan kehidupan yang berbasis adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan rajin berolahraga agar menjaga imun tubuh, sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun, keluar rumah harus memakai masker, dan menghindari kerumunan orang. Hal inilah yang kemudian disebut dengan era new normal atau normal baru

Walaupun demikian, pemandangan awan mendung yang berarak masih membawa tangis resah dan juga lapisan ozon semakin menipis dari hari demi hari tergerus oleh waktu akibat ulah sang penguasa nafsu material yang tidak mau bersahabat dengan alam. Hal ini telah memperlihatkan kondisi bumi sedang mengalami masalah. Tanpa disadari bersama, dalam kondisi pandemi COVID-19 ini telah menyadarkan bahwa sebagai umat beragama harus menjalankan dharma yang baik agar lebih dekat kepada Sang Pencipta. Semua agama terkena dampak dari wabah ini dan sudah saatnya diperlukaan sebuah moderasi beragama guna bersama-sama menghadapinya. Patut dipahami bahwa dari segala bentuk ujian yang mengakibatkan dampak buruk bagi kehidupan manusia, pasti menyimpan dampak positif . Nampaknya dalam ajaran agama Hindu istilah Rwa Bhineda kembali digunakan. Oleh karena itu, inilah yang perlu diselami lebih dalam lagi apa manfaat dari segi positifnya yang dapat diperoleh.

Jika dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama memiliki arti sistem yang mengatur tata keimanan (Kepercayaan) dan peribadatan kepada T uhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia dengan lingkungannya. Ada sebuah tuntunan untuk membimbing umat manusia agar menjalankan suatu tatanan kehidupan guna mencapai keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan. Itulah yang disebut dengan ajaran Tri Hita Karana dalam kitab suci Hindu dan tentunya setiap penganut kepercayaan mimiliki tuntunan dengan kitab sucinya masing-masing yang menjadikan hal mutlak bagi pemeluknya.

Agama Hindu adalah agama yang kental dengan banten dan upacara . Jadi tidak heran jika segala bentuk kegiatan keagamaan pasti menggunakan banten dan upacara yang besar guna menunjukkan bukti rasa bhakti kepada Tuhan  yang telah memberikan anugrah dan karunia yang tiada batasnya. Namun dalam kondisi pandemi seperti ini, menyebabkan ekonomi semakin mencekik. Kebutuhan finansial semakin tinggi yang tidak seimbang dengan penghasilan. Kegiatan upacara yang besar jarang terlihat lagi dan terlihat seolah-olah semakin tidak relevan lagi jika upacara besar dilaksanakan. Virus Corona seperti mengajarkan kembali konsep Tiga Kerangka Dasar agama Hindu yaitu Tattwa , Susila dan Upacara harus berjalan dengan seimbang. Tingkatan yadnya yaitu Nista Yadnya, Madya Yadnya dan Utama Yadnya penting sekali dipahami untuk menyesuaikan kondisi pandemi seperti ini. Disadari atau tidak, mau tidak mau selama ini umat Hindu terjebak pada banten dan upacara saja. Terkesan memaksakan jika semestinya tidak mampu dilakukan. Fenomena-fenomena diluar nalar yang menyebabkan kegaduhan pasti dikaitkan dengan Niskala yang berhubungan dengan upacaranya. Padahal dalam hal ini tidak ada yang salah dengan upacaranya. Dilihat dari segi pemahaman susila, bahwa segala bentuk fenomena ini adalah ulah dari karma atau tingkah laku yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Tanah longsor terjadi karena manusia yang mengikuti nafsunya untuk menebang pohon sembarangan. Banjir tidak akan terjadi jika manusia mau menjaga alam dengan baik dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak membangun pemukiman dipinggir sungai, dan perbuatan-perbuatan lain yang merugikan alam. Manusia akan terhindar dari virus corona jika mereka mau bersama-sama patuh dan taat pada aturan-aturan pemerintah. Selalu menjaga jarak jika berkumpul dengan orang banyak, mencuci tangan sesering mungkin, dan selalu menggunakan masker. Kalau seseorang terdidik sampai kesadaran dalam beragama dan bertindak secara tegas menurut prinsip kesusilaan,  maka orang tersebut tergolong orang yang sangat cerdas dalam beragama. Atas dasar tattwa yang diyakini sebagai umat Hindu, penting sekali untuk selalu mencakupkan tangan dan rajin bersembahyang kepada Ida Hyang Widhi Wasa. Melaksanakan puja Tri Sandya dengan tulus serta memohon perlindungan dan keselamatan, astungkara dengan cara seperti ini diharapkan wabah COVID-19 cepat berlalu.

Proses memahami serta mengamalkan ajaran-ajaran sastra suci dalam kondisi pandemi COVID-19 harus dilaksanakan dengan benar. Suasana pikiran yang tulus dalam pelayanan bhakti harus ditingkatkan agar tidak menyimpang dari ajaran dharma. Maka dari itu diperlukan sebuah moderasi beragama atau pandangan yang tidak berlebihan untuk mendukung pelaksanaan dharma di era new normal. Mengingat tujuan agama Hindu adalah moksartham jagadhita ya ca iti dharma yang artinya tujuan hidup yaitu kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia maupun di alam moksa (Bersatunya atman dengan Brahman). Oleh sebab itu pelepasan ikatan duniawi  perlu ditanam dalam jiwa(atman) sejak dini agar terus merasakan kebahagiaan rohani. Ada hal yang sangat relevan harus dilakukan dalam moderasi beragama Hindu di era new normal yang dikutip dalam sastra suci weda:

Bhagawad Gita X.25

Maharsinam bhrgur aham

Giram asmy ekam aksaram

Yajnanam japa yajno smi

Sthavaranam himalayah

Artinya :

Di antara maharsi Aku adalah Bhrgu; di antara ucapan suci, Aku adalah Omkara; Di antara yajna, Aku adalah Japa mantra , di antara benda-benda tak bergerak Aku adalah Himalaya.

Jika diperhatikan tanpa berspekulasi, dengan jelas sloka tersebut mengatakan “ Di antara yajna, Aku adalah Japa mantra ”. Jelas bahwa di antara korban-korban suci yajna Aku (Tuhan Yang maha Esa) adalah ucapan-ucapan nama-nama suci Tuhan atau Japa. Bhagawad Gita menegaskan bahwa diantara segala jenis korban suci, pengucapan nama-nama suci itulah yang paling utama. Proses pengucapan nama-nama suci Tuhan yaitu dengan menggunakan rudraksa atau kayu tulasi/neem. Nama-nama suci Tuhan yang dapat diucapkan secara berulang-ulang seperti om  nama siwaya, om namo bhagawate vasudevaya.Om namo Narayana ya,  Om sri laksmi, dan masih banyak lagi nama kepribadian agung yang dapat diucapkan sesuai dengan rasa atau kepuasan untuk meningkatkan rasa bhakti /ikatan kuat kepada Tuhan dan mencapai kebahagiaan rohani. Selain itu dalam Manawa Dharma Sastra IV.23 juga menyebutkan “ Yang mengetahui bahwa yajna yang dilakukan dalam ucapan dan dalam nafas mereka akan memberi pahala yang tak terhancurkan; dan yang selalu mempersembahkan nafas mereka dalam ucapan mereka dan ucapan-ucapan pada nafas mereka ”. Dalam Bhagawata Purana, Naradya Purana dan masih banyak lagi sastra-sastra suci weda yang menegaskan pentingnya mengucapkan nama suci Tuhan. Kembali dugaan umat Hindu yang hanya fokus pada yadnya-yadnya saja yang diutamakan. Oleh karena itu sloka-sloka tersebut merupakan solusi untuk menjawab pelaksanaan dharma yang relevan pada masa pandemi COVID-19 ini.

Melihat momentum perubahan besar dalam kegiatan beragama, membiasakan diri dengan upacara yadnya yang sederhana tanpa mengurangi kualitasnya. Mulai berpandangan bahwa pentingnya moderasi beragama Hindu yaitu tidak hanya dengan banten dan upacara-upacara saja, namun harus seimbang dengan meningkatkan tattwa membaca kitab suci itu sangat penting dilakukan agar umat Hindu memiliki acuan atau tuntunan dalam menghadapi masalah-masalah yang ada. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan disebut dengan kebahagiaan rohani, walaupun barangkali diperlihatkan dengan berbagai cara namun tujuannya tetap sama. Oleh karena itu, Tuhan sudah memberikan wahyu suci yang tertulis pada sastra suci weda dengan murah hati menuntun umat-Nya serta menjaga mereka agar tetap pada jalan yang progresif untuk kembali pulang kepada Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Referensi

 

Gede Pudja. Bhagawad Gita. Hal 261

Gede Pudja. Manawa Dharma Sastra(Weda Smerti). Hal 122

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Suwanto, A. (2020, Juni Minggu). Potensi Resesi Ekonomi Bali Akibat pandemi Covid-19. Retrieved from radarbali.jawapos.com: https://radarbali.jawapos.com/read/2020/06/28/201361/potensi-resesi-ekonomi-bali-akibat-pandemi-covid-19/diakses pada tanggal 14 November 2020

 

 

Wednesday, 23 October 2019

Jangan Merasa Paling Menderita

(Cerpen)



      Tatkala senja membangunkanku dengan paksa dari tidur siangku yang sangat lelap. Harianku sering kusebut dengan hari yang penuh kebingungan. Semakin keras aku memikirkannya, dukalah yang menghampiri. Bermusuhan terlalu berlebih dengan tubuh, sehingga menjadikan rasa resah dan gelisah. Secangkir air putih segera kuteguk untuk membangunkan jiwa yang lemah ini agar segera bangkit dari keterpurukan. Ditengah lingkungan penuh jiwa yang terikat sifat-sifat yang terkadang menghibur kadang kala juga menyinggung.
       Belajar dari kisah-kisah seseorang yang dapat menggugah jiwa lemah ini untuk bangkit dan segera membuat hal baru yang menguntungkan. Karena kusadari bahwa penderitaan tak akan pernah berakhir jika pikiran terus berprasangka buruk terhadap kehidupan. Merasa paling menderita dari semua orang yang aku pikir itu hanyalah dugaanku sendiri. Mencoba membuat segala sesuatu menjadi baik dengan mencontoh pohon cendana yang selalu mengeluarkan aroma harum ketika dipotong. Seperti halnya manusia semakin dihina dicaci dimaki, balaslah dengan rendah hati tanpa dendam. Jangan menjadikan diri menjadi korban dan jangan menjadikan mereka menjadi musuh. Mencoba membuat keadaan damai dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dan cobalah mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan untuk menciptakan kedamaian dalam setiap perbuatan.

Sunday, 15 July 2018

Silsilah Peradaban Hindu Petak 8 Sumbermanggis





Halo sahabat Hindu, disini saya akan membahas mengenai silsilah peradaban umat hindu yang ada di petak 8 Sumbermanggis secara singkat. Cerita ini saya dapatkan hasil dari wawancara Bapak Suwono selaku Ketua RT petak 8 beragama Hindu di acara Sadana Camp yang dilaksanakan oleh peradah Banyuwangi.
 Minggu 8-10 Juni 2018, organisasi peradah Banyuwangi mengadakan kegiatan sadana camp yang dilaksanakan di petak 8 Dusun Sumbermanggis, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi. Petak 8 memiliki peradaban umat Hindu yang terletak di tengah hutan kaki Gunung Keraton yang memiliki banyak misteri dan peninggalan benda bersejarah. Tahun 1965, pertama kalinya dibuka lahan untuk mendirikan sebuah pura umat Hindu petak 8 memiliki tempat ibadah sendiri. Pembangunan tersebut dilaksanakan oleh para leluhur petak 8 yang beragama Hindu. Kondisi pura saat itu, masih berupa padma sari dan dilindungi pagar yang terbuat dari bambu (betek). Namun, pada tahun 1988 umat hindu petak 8 mengalami pasang surut dalam menjalankan ibadah di pura. Jarang sekali umat hindu yang mau bersembayang dan mengikuti upacara agama. Hal ini dikarenakan rendahnya pengetahuan tentang cara bersembahyang dan ajaran-ajaran Hindu. Mendengar hal ini, bapak Saiman selaku kepala Dusun Sumbermanggis dan beragama Hindu, datang untuk memberikan motivasi dan mengajarkan ajaran-ajaran hindu untuk menumbuhkan srada dan bakti terhadap ajaran agama hindu. Seiring berkembangnya waktu, pada tahun 2005 umat hindu dari Bali memberikan donatur untuk membangun pura. Setelah itu ditemukanlah tempat untuk mendak tirta yang bertempat disekitar Gunung Keraton yang kemudian disebut dengan sumber beji. Sumber beji ini merupakan sumber mati air yang dulunya digunakan untuk air minum dan kebutuhan sehari-hari masyarakat petak 8. Disekitar wilayah gunung Keraton banyak ditemukan benda-benda bersejarah yang ditemukan oleh umat hindu petak 8 sendiri , seperti Bajra, gong, kempul, saron, piring berlapis emas, dan masih banyak lagi benda bersejarah lainnya. Benda tersebut ditemukan dalam kondisi masih utuh dan ada yang sudah berkarat. Saat ini keadaan benda tersebut masih dirawat oleh umat hindu di petak 8. Adapun penemuan sebuah padmasari di lereng Gunung Keraton dan ada pohon beringin besar yang dipercayai ada seseorang yang sedang bersemedi didalamnya. Saat ini jumlah umat hindu dipetak 8 berjumlah 22 KK. Ini masih lebih sedikit dari pada umat lain seperti umat Islam dan Kristen. 



Nb: yang penasaran silahkan datang ya, mari kita melihat perkembangan agama Hindu dipelosok tengah-tengah Hutan Sumbermanggis..👦

Saturday, 21 October 2017

INDONESIA SUDAH MERDEKA



INDONESIA SUDAH MERDEKA
RINO SUSILO
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

Indonesia merdeka sejak tanggal 17 Agustus 1945 dengan diproklamirkan oleh Ir. Soekarno di jalan Pegangsaan timur no 56 Jakarta pukul 11.30 waktu Nippon ( Jepang ). Dan tentunya kemerdekaan itu memiliki cita-cita dan tujuan bernegara, bangsa Indonesia dikaruniai modal dasar pembangunan berupa penduduk yang berbhineka dari Sabang sampai Merauke dan itu menjadi Tunggal Ika ,Perekat Pancasila, Bahasa Indonesia,Indonesia Raya, serta Sang saka Merah Putih dan tentunya karunia yang Indah lainnya yang tak ternilai harganya seperti hasil sumberdaya alam yang kaya raya, laut yang menghasilkan berlimpah, tanah Indonesia tumbuh subur, sumber minyak, serta hasil tambang. Lalu apa yang terjadi setelah 72 tahun merdeka sekarang ini?, Indonesia kini telah memiliki hutang kurang lebih 148 milyar dollar. Jumlah penduduk miskin anak bangsa ini mencapai sekitar 18 % (menurut BPS). Itu jika garis kemiskinan 153 ribu rupiah per kapita per bulan.. Sedangkan jumlah pengangguran terbuka mencapai sekitar jutaan orang dan setengah pengangguran juga masih banyak di jumpai. Menurut penuturan Menteri kesehatan, jutaan bayi menderita gizi kurang diantaranya menderita gizi buruk. Lalu bagaimana keinginan anak bangsa yang ingin menikmati kemerdekaannya ingin menempuh pendidikan yang layak demi syarat kemajuan bangsa Indonesia ini. Seperti inikah nasib bangsa Indonesia yang dikaruniai banyak kelimpahan harta sumber daya alam, namun tidak bisa mensejahterakan rayatnya. Dengan kekayaan yang berlimpah tidak semua warga Indonesia ikut menikmatinya banyak sektor – sektor pertambangan yang dikuasai oleh warga Negara asing, contohnya adalah sektor pertambangan tembaga dan emas yang sudah hampir 100% dikuasai oleh warga Negara asing yaitu PT Freeport Indonesia yang berada di Papua. Yang tentunya banyak merusak sungai, dan menghancurkan ekosistem lingkungan sekitarnya. Selain itu ada juga hutan-hutan yang ditebang secara ilegal demi kepentingan pribadi. Sungguh miris sekali kondisi Indonesia ini. Diharapkan kepada generasi-generasi anak bangsa bisa menjadikan Indonesia ini mengalami perubahan yang lebih baik. Warga Indonesia banyak yang tidak merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, masih banyak yang menderita , banyak yang miskin, kelaparan dan kurangnya pendidikan. Memang kalau kita meninjau sejarah kemerdekaan Indonesia mungkin kemerdekaan Indonesia disebabkan oleh kekalahan Jepang kepada sekutu dengan dibomnya Kota Hirosima 6 Agustus 1945 dan Nagasaki 9 Agustus 1945 sehingga Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu dan sekaligus mengakiri peng dunia ke II. Dengan hal ini banyak masyarakat yang mengira bahwa kemerdekaan Indonesia ini merupakan hadiah dari Jepang. Maka dari itu masyarakat Indonesia perlu belajar sejarah mengenai kemerdekaan Indonesia agar bisa mengetahui penyebab kemerdekaan Indonesia dan bagaimana perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Agar tidak menjadi rasa  kurangnya sikap nasionalis kepada Negara dan para pahlawan kemerdekaan. Saat ini Indonesia sudah merdeka selama 72 Tahun dan banyak membawa perubahan di Negara ini. Indonesia adalah Negara yang kaya, kaya akan suku, ras, agama, adat , dan budaya. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Indonesia merdeka hanya dengan sebuah nama saja, pada kenyataannya Indonesia masih banyak mengalami banyak masalah. Sekarang ini banyak muncul ormas-ormas yang mengancam keutuhan NKRI ini. Banyak ormas yang ingin merubah ideologi Negara dan Undang-Undang. Disisi lain banyak juga masyarakat Indonesia yang masih banyak mengabaikan kepedulian tentang masalah ini, hal tersebut bisa terlihat pada kondisi yang terlihat sekarang. Indonesia adalah Negara yang kaya akan adat dan budaya, maka dari itu jika kita dapat memperkuat sikap persatuan dan kesatuan kita, maka Negara kita adalah Negara yang kuat dan unik dimata dunia. Namun banyak dari golongan tertentu yang ingin menjatuhkan dan menghancurkan persatuan ini dengan cara ingin merubah ideologi Pancasila yang sudah menjadi dasar Negara bagi Indonesia.
Kondisi Indonesia sekarang ini sangat memprihatinkan dalam arti prihatin akan kesatuan dan keberagaman yang kita miliki. Jika kita bisa melihat , maka Indonesia sekarang sangatlah terancam keutuhannya, Banyak para ormas-ormas yang ingin menjadikan Negara ini menganut ideologi yang bersyariat. Pada dasarnya agama seharusnya tidaklah menjadi suatu halangan bagi kita untuk mencapai Negara yang maju. Berbagai Negara di dunia sudah banyak yang membicarakan tentang sains mengenai astronomi dan penemuan-penemuan baru lainnya. Sedangkan Indonesia masih memiliki masalah-masalah seperti banyaknya kasus korupsi, demo, dan lain-lain yang tentunya ini bisa menjadikan Negara yang tertinggal dibanding dengan Negara lain di didunia.
Hukum di Indonesia juga masih menjadi suatu pembahasan yang perlu dikaji lebih dalam. Karena hukum di Indonesia ini banyak yang kasus pelanggaran dan hukuman yang dijatuhkan masih tidak sesuai, sehingga menyebabkan negara ini akan mengalami kesenjangan di masyarakat. Pemerintah seharusnya bisa mengatasi tentang hukum-hukum yang berlaku di Indonesia yang menurut dimata masyarakat hukum di Indonesia ini seperti jaring laba-laba. Dimana hewan yang kuat pasti dapat lolos dengan menghancurkan jaring tersebut. Akan tetapi berbeda halnya dengan hewan yang lemah, jika hewan tersebut terperangkap maka dia akan menjadi mangsa bagi laba-laba. Hal ini bisa disimpulkan bahwa hukum Indonesia ini hanya berlaku bagi golongan tertentu. Karena orang yang melakukan pelanggaran dan orang tersebut mampu mengatasi dengan hal yang curang, maka hukuman akan semakin ringan. Sedangkan bagi orang golongan rendah yang hanya melakukan pelanggaran akan dihukum sesuai Undang-Undang dan itu memang benar. Itu semua menurut pandangan yang banyak dilihat oleh masyarakat di Indonesia. Akan tetapi jika kita bisa belajar lebih jauh mengenai hukum di Indonesia ini tidak lah hal seperti itu berlaku. Masih banyak hukum di Indonesia ini berjalan dengan benar dan jujur. Maka dari itu masyarakat harus bisa menilai dan memahaminya dengan benar. Masyarakat harus percaya bahwa hukum di Indonesia ini berlaku dengan jujur dan tidak semua melakukan kecurangan.
Presiden Jokowi adalah presiden yang sangat nasionalis untuk negera Indonesia ini, dengan kondisi Negara yang sekarang ini, presiden Jokowi banyak membubarkan ormas-ormas yang mengancam keutuhan NKRI ini. Karena ormas tersebut sangat bertentangan dengan Pancasila bahkan berusaha untuk memecah belah keanekaragaman yang telah dimiliki Negara Indonesia ini. Presiden Jokowi tidak akan segan-segan untuk ‘gebuk’ kepada siapa saja yang ingin merusak dan memecah belah keutuhan NKRI ini. Pada taggal 17 Agustus 2017 kemarin Presiden Jokowi mengadakan upacara yang sangat berkesan dan kreatif. Dimana dengan kondisi Negara Indonesia sekarang Presiden mengundang para peserta upacara untuk memakai pakaian adat masing-masing di seluruh Indonesia. Hal ini sangat mendapat perhatian yang baik dimata masyarakat , dengan begitu masyarakat Indonesia agar sadar bahwa kita tinggal dan menjadi warga Negara Indonesia ini mengenal bahwa Indonesia adalah Negara yang sangat beraneka ragam suku, adat, dan budaya. Dan saat itu Presiden Jokowi juga memberikan penghargaan dan mengapresiasi kepada pakaian adat yang dipakai oleh suku adat itu. Sikap seperti inilah yang perlu terus dikembangkan agar keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia ini tetap terjaga. Indonesia sudah memiliki ideologi Pancasila yang sudah final dan tidak boleh digantikan atau dirubah oleh siapapun. Pancasila adalah satu-satunya ideologi yang sesuai diterapkan di Indonesia karena keanekaragaman yang dimilikinya.
Dalam kehidupan sekarang ini banyak sekali yang tidak memahami dan memaknai arti dari Pancasila. Pancasila itu berbeda dengan agama, akan tetapi Pancasila itu menaungi semua agama, karena Pancasila melindungi dan menyatukan perbedaan yang beragam. Agama, filsafat, ilmu pengetahuan telah memiliki pengertian sendiri-sendiri sehingga berbeda dengan arti dengan Pancasila. Agama adalah sesuatu kepercayaan yang mutlak dan tidak bisa memaksakan, sedangkan filsafat ilmu pengetahuan itu kepercayaan yang harus dibuktikan dengan kebenarannya. Sedangkan Pancasila adalah sesuatu hal yang menjiwai setiap diri manusia di Indonesia, maka dari itu kita semua harus bisa mengembangkan , meningkatkan diri sebagai mahkluk yang Pancasila. Pancasila sudah menjadi harga mati didalam diri setiap masyarakat Indonesia.
Disisi lain membicarakan tentang perekonomian, keutuhan NKRI, kondisi Negara ini banyak sekali hal-hal yang sangat perlu diperhatikan, masih banyak tugas-tugas pemerintah untuk mensejahterakan rakyat Indonesia ini. Semua warga Negara juga perlu belajar dengan baik, semua harus sadar akan kewajiban sebagai warga Negara, jangan sampai warga Negara sulit untuk mengerti tentang sejarah Indonesia yang sebenarnya, jangan sampai warga Indonesia merusak kekayaan alam yang dimiliki Negara . Semua warga Negara harus bisa menjaga dan melestarikan seluruh kekayaan Negara Indonesia ini agar bisa terjaga dengan baik untuk selama-lamanya. Maka dari itu tentu peraturan-peraturan yang sudah dibuat oleh pemerintah agar bisa dipatuhi dengan baik. Kondisi Indoensia ini tentu semua tergantung kepada masyarakat Indonesia senidiri, karena hal utama yang dapat memajukan Negara ini adalah masyarakat. Jika pemerintah sudah membuat peraturan yang tujuannya membangun, akan tetapi apabila masyarakat sulit diatur dan banyak yang mengabaikannya, hal ini akan berakibat tidak ada kemajuan Negara. Masalah perekonomian juga hal yang paling sering dikeluhkan bagi Negara ini. Negara yang disebut-sebut Negara kaya akan kekayaan alam. Akan tetapi tidak  membuat masyarakatnya menjadi sejahtera, justru dalam kondisi yang terlihat sekarang banyak masyarakat yang jatuh pada garis kemiskinan. Banyak sumberdaya alam yang dikita miliki di kuasahi oleh pihak asing. Dengan demikian pemerintahpun diharapkan bisa mengambil kebijkan yang baik untuk Negara ini. Jika kita dapat menjaga dan memanfaatkan kekayaan alam yang kita miliki ini, maka kesejahteraan akan tercipta.Untuk itu marilah kita dukung segala bentuk program pemerintah yang tujuannya tentu untuk menjadikan Negara Indonesia ini lebih baik. Pekerjaan pemerintah akan sukses jika masyarakat dapat berpartisipasi untuk mendukungnya. Maka jika hubungan masyarakat dan pemerintah bisa lebih dekat untuk saling berkomunikasi dengan baik, maka kemajuan bangsa ini akan lebih baik. Namun jika pemerintah dan rakyatnya sulit untuk saling berkomunikasi maka juga akan berkibat buruk bagi kehidupan bangsa dan Negara ini.
Pemerintah di Indonesia pada kondisi yang sekarang ini juga menjadi sorotan penting bagi masyarakat. Karena sekarang banyak masyarakat yang tidak peduli dan banyak yang tidak percaya akan kinerja pemerintah yang dijanjikan. Karena memang banyak sekali bukti-bukti janji pemerintah untuk merubah Negara ini menjadi lebih baik masih banyak kerjaan yang tidak dijalankannya. Hal tersebutlah yang mungkin menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Jika dibiarkan secara terus-menerus maka akan menyebabkan hal buruk seperti ketidakbenaran penggunaan dana dan maka mengakibatkan kasus korupsi. Memang kalau kita berbicara tentang korupsi, korupsi di Indonesia ini peringkat 10 besar kasus korupsi yang paling parah di Negara-negara dunia. Hal ini tidak mengherankan karena memang kenyataan kondisi pemerintahan Indonesia ini juga memprihatinkan. Maka kita mendapat kesimpulan bahwa Negara yang sudah merdeka selama 72 tahun ini, dan tentunya banyak sekali hal-hal yang berubah mulai dari masa ke masa yang ada di Indonesia ini. Banyak hal-hal negatif yang terjadi pada masa sekarang ini. Kasus korupsi banyak terjadi, kasus pelanggaran HAM , kasus penghianatan Pancasila, ormas-ormas radikal, dan masih banyak lagi kasus-kasus negatif lainnya. Dan sudah sepatutnya kita sebagai warga Negara juga harus mendukung program kerja pemerintahan agar berjalan dengan baik.