Monday, 14 April 2025

MASJID TUA

 Oleh : Kevin, Rino Susilo

Byur...byur...byur...!!! Terdengar suara anak-anak penuh kebahagiaan, sudah lama tak berenang mandi di kolam dan sangat ceria menikmati masa kecil yang indah. Mereka menilai kolam itu dapat memberikan kenangan yang tak bisa dilupakan dengan mudah. Sesudah puas mereka melanjutkan mandi dan segera beranjak bersiap-siap untuk solat berjamaah di masjid samping kolam tersebut. Masjid itu sudah tua, terdapat pohon belimbing dan sawo becik yang masih bertengger kokoh menghiasi lingkungannya. Tidak menjadi hal yang mengganggu bagi siapapun. Burung-burung trocok bernyanyi sangat indah disana. Suaranya berkicau adu kemerduan. Apa yang mereka inginkan? entahlah, seolah-olah itulah tempat nyaman dan aman baginya, hingga tak terasa pagi segera tiba. 

 Ketika masjid yang tidak merencanakan pertemuan orang-orang. Tiba-tiba subuh dini hari ketika terdengar suara adzan oleh kiai dimasjid itu, menarik empat musafir bernama Rido, Hasan, Mifta, dan Abdul. Mereka behenti dan menjadikan masjid itu untuk solat subuh. Walau sedikit jamaah, mereka tetap berupaya mengerahkan segenap pikiran dan hatinya hanya kepada sang Pencipta. Tidak ada angin tidak ada hujan. Hal yang tidak terduga terjadi! 

 “eq..eq.. la...i lahaill..allah muham..madarrasulu.llah” terdengar suara rintihan doa dari Kiai. “Ya Allah ada apa ini, tolong-tolong” Hasan panik sambil berusaha membangunkan Kiai. “Bangun pak, Ya Allah, bagaimana ini” Hati Rido berdebar kencang. Mifta dan Abdul berusaha mencari pertolongan kepada orang-orang disekitar. Namun nyawa Kiai sudah tidak tertolong lagi. Kiai telah meninggal dunia di Masjid Tua saat bersujud. 

 Tidak nampak pesan-pesan yang menyedihkan kala itu, tidak ada yang tau rencana ajal tiba. Terdapat seorang didalamnya yang ternyata menjadi akhir di masjid tua itu. Apa yang perlu disesali atas peristiwa ini? Tentu tidak ada, ini sudah menjadi takdir baginya. Semua jiwa akan mati seperti keputusan yang menentukan waktunya. Banyak menyimpan cerita di tempat masjid tua. Namun masjid tetaplah masjid. Sebuah bangunan yang selalu siap menunggu siapapun yang ingin mencari ketenangan, obat kerinduan, pereda kelelahan, serta pelindung bagi orang-orang beriman.  

DUKUNGAN SEORANG IBU

 Oleh : Nimas, Rino Susilo

Hari minggu selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi Nimas. Ia selalu senang jika hari minggu tiba. " Akhirnya libur, seperti biasa bu, yuk berangkat latihan renang", ucap Nimas kepada Ibunya. "Iya nduk, tapi sepertinya mendung dan hujan segera turun", jawaban ibunya kepada Nimas. Dengan penuh permohonan, Nimas kepada Ibunya "ayoklah bu, gpp nanti sambil hujan hujanan lebih seru"."Wah nanti kamu bisa sakit nduk, tapi ya sudah yuk siap-siap". Saking senangnya, Nimas segera melakukan persiapan. Nimas memasukkan baju ganti, sandal dan makanan ringan ke dalam tasnya. 

 Sebelum berangkat cuaca mendung semakin tebal, hujan tak terelakkan dan akhrinya turun juga. Nampak wajah Nimas yang penuh kecewa. Lalu ibu mendekati Nimas. “Bagaimana nduk sekarang hujan deras, main di rumah saja ya”. Nimas terdiam, mata berkaca-kaca sepereti akan menangis menunjukkan kesedihannya. Mengetahui putrinya bersedih, sang ibu pelan-pelan mendekati Nimas "Sudahlah nduk, minggu depan lagi ya"."Hujan ini apa tidak selesai-selesai ya bu?" tanya Nimas. “Sepertinya ini lama nduk, hujannya deras, coba lihat halaman rumah kita kebanjiran. Sebagai gantinya nanti malam kalau hujannya sudah reda kita jalan-jalan beli martabak kesukaanmu saja ya?” tawaran Ibu untuk meredakan kesedihan Nimas. “Kalau tetap hujan gimana bu?” jawab Nimas. Ibunya meyakinkan "Yakin saja nanti pasti hujannya berhenti, berdoa saja ya nduk, sekarang yuk kita belajar melukis. kamu kan juga suka melukis. Coba kamu lukis suasana hujan nduk". Nimas kembali semangat karena melukis juga salah satu hobinya "oh iya bu, sepertinya seru juga melukis disaat seperti ini". " Betul nduk, sekarang ibu ambilkan peralatan lukisnya, kemudian ibu buatkan teh hangat untukmu". " Iya, Trimakasih bu". 

 Sambil menunggu hujan reda, Nimas melukis suasana hujan dan tanpa disadari ia tertidur. Kemudian hal yang diyakini akhirnya terbukti benar. Hujan berhenti ketika sore hari. Ibu melihat Nimas sedang tertidur disamping lukisan yang dibuatnya. Dengan kagum ibunya melihat hasil lukisan putrinya yang luar biasa bagus dan kemudian membangunkan Nimas " Nduk bangun, silahkan mandi sudah sore". Pelan-pelan mata Nimas terbuka " Hujannya sudah reda ya bu?". Sudah nduk. “Lihat bu hasil lukisanku”. " Iya nduk, hasil lukisanmu luar biasa, nanti akan ibu belikan peralatan lukisan yang lebih lengkap nduk agar kreatifitasmu semakin berkembang ". "Siap bu". Tiba-tiba Nimas mengingat sesuatu "oh iya bu kita jadi beli martabak kan?", Ibunya tersenyum dan berkata " wah ingat saja kamu nduk, karena kamu sudah melukis dengan bagus dan anak yang baik serta penurut, yuk kita beli martabak. sekarang mandi dulu ya". Nimas nampak senang dan kegirangan" Yes, SIAP BU".

Monday, 7 November 2022

quis

 https://docs.google.com/forms/d/1iRX2ylWnAGbcVD-RkbZMITVXwwEmZ2gbpITR2SxFY7Q/edit

Thursday, 20 May 2021

IMPLEMENTASI VASUDHAIVA KUTUMBAKAM LEBIH DARI SEKADAR TOLERANSI DALAM KEHIDUPAN MULTIKULTURAL

 


Oleh :

Rino Susilo

Peradah Sumbermanggis Barurejo

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keanekaragaman agama, suku, ras, dan budaya. Keanekaragaman tersebut karena dipengaruhi oleh letak geografis yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kenyataan ini sudah semestinya diterima dengan baik oleh seluruh masyarakat Indonesia dan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bahwa Bangsa Indonesia memiliki kekayaan yang berbeda dari negara-negara lain. Sebagai negara beranekaragam tentu ada sebuah landasan dasar yang mampu merangkul keberagaman tersebut yaitu Pancasila. Pancasila merupakan dasar negara yang nenjadi warisan pusaka pahlawan pejuang bangsa yang adiluhung untuk menyatukan negara yang plural atau majemuk yang terdiri dari perbedaan-perbedaan didalamnya.

            “Sebersih apapun sepatu dicuci, ada saja kerikil yang terselip”. Pribahasa ini mengandung makna bahwa walaupun Pancasila sudah mampu menyatukan berbagai perbedaan yang ada, tetap saja ada kelompok-kelompok kecil yang ingin merusaknya demi kepentingannya sendiri. Dewasa ini kita telah banyak mendengar kasus-kasus yang sangat memprihatinkan terkait dengan pudarnya keutuhan dan kesatuan bangsa. Seperti kasus pelecahan agama yang dilakukan oleh oknum tertentu yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa agama yang dianutlah paling benar. Hal ini bermula dari adanya fanatisme yang berlebihan dari oknum-oknum yang menganggap bahwa anggapan agamanya yang paling benar, menutup kemungkinan sebuah kebenaran, menggagap bahwa agama lain salah dan berujung pada tindakan radikalisme (Kamaruddin & Sabannur, 2018:77). Masalah ini tidak hanya dilakukan oleh satu agama tertentu, akan tetapi juga ada oknum-oknum dari agama lain yang saling melecehkan. Sifat fanatisme boleh saja dilakukan jika dibawa kedalam diri demi untuk kedamaian pribadi dan tidak semestinya diterapkan diluar jika hanya akan menciptakan konflik. Pemahaman terkait dengan moderasi beragama, pembelajaran perdamaian dan resolusi konflik dalam bangsa yang pluralis sangat penting dilakukan dalam Pendidikan. Adawiyah, dkk (2019:29) menyatakan bahwa untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama, penerapan pendidikan multikultural penting diterapkan dalam setiap proses pembelajaran baik di dalam kelas di luar kelas ataupun di dalam sekolah dan di luar sekolah. Sehingga sikap nasionalis tertanam sejak dini untuk menjaga keutuhan Bangsa Indonesia dan terciptanya sebuah toleransi yang mampu memahami dan menerima perbedaan antar umat beragama

            Berangkat dari permasalahan tersebut agama Hindu memiliki ajaran yaitu Vasudhaiva Kutumbakam yang merangkul tanpa membeda-bedakan bahkan menganggap kita semua bukanlah pemilik agama itu sendiri. Semua mahkluk hidup hanyalah insan yang hanya menjalankan karmanya masing-masing yang sudah diperbuat dalam kehidupan terdahulu. Vasudhaiva Kutumbakam adalah ajaran Agama Hindu yang merupakan ungkapan bahasa Sansekerta yang berarti kita semua bersaudara, seluruh dunia adalah satu keluarga tunggal tanpa membedakan-bedakan. Vasudhaiva Kutumbakam disebutkan dalam kitab Maha Upanisad 6.72 yang berbunyi:

“Ayam bandhurayam neti gananā laghuchetasām, Udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam”

Artinya: Ada beberapa orang yang berpikir sempit bahwa saudara itu memiliki batasan entah itu suku, bangsa ras dan mungkin agama. Pemikiran sempit seperti ini adalah reaksi dari ego, dengan cara berpikir seperti itu maka mereka telah menghilangkan nilai nilai kemanusiaan yakni cinta kasih terhadap sesama, mereka membatasi diri untuk mencintai semua mahluk hidup. Membantu sesama manusia adalah salah satu implementasi dari Vasudhaiva Kutumbakam.

Selain itu kitab Hitopadesh 1.3.71 juga menjelaskan terkait dengan ajaran Vasudhaiva Kutumbakam yang berbunyi :

“Ayam nijah paroveti gananā laghuchetasām,

Udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam”

Artinya : Ini adalah tempat saya dan orang yang berada di luar adalah orang asing, merupakan pemikiran sempit. gunakanlah hati nurani karena bagaimanapun, seluruh bumi adalah sebuah keluarga.

Dari dua sloka tersebut sudah jelas bahwa semua mahkluk yang ada di alam semesta ini pada dasarnya adalah sama. Sesuai dengan sabda Tuhan dalam Bhagawad Gita Bab 14 sloka 4 yang menjelaskan bahwa semua mahkluk adalah satu keluarga dengan satu ayah yang sama yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah sumber dari segala sumber. Benih yang memberikan kehidupan. Kehidupan bukan hanya di planet ini saja tetapi diseluruh planet yang ada di alam semesta. Para mahkluk hidup berada dimana-mana; di dalam tanah, udara, bahkan didalam api juga terdapat kehidupan. Hanya karena mahkluk hidup memiliki karma yang berbeda-beda, maka mahkluk hidup menerima badan yang berbeda pula.

Aplikasi ajaran vasudhaiva kutumbakam dapat dilakukan mulai dari diri sendiri yaitu dengan menganggap bahwa badan ini sejatinya bukanlah sang diri melainkan saudara terdekat untuk menjalankan ajaran-ajaran dharma. Kemudian dapat dilanjutkan pada tingkat keluarga, kerabat, orang lain dan semua mahkluk yang ada sekitarnya. Vasudhaiva kutumbakam juga mengajarkan bagaimana meningkatkan kualitas spiritual sang diri. Jika semua mahkluk mengganggap bahwa segala yang ada di bumi ini bukanlah miliknya, mulai berfikir bahwa “Aku bukanlah penganut agama tertentu, aku bukanlah orang yang berasal dari tempat tertentu, dan aku bukanlah badan ini”. Berfikir seperti ini bukanlah mengajak semua mahkluk untuk tidak beragama, namun lebih dari itu yaitu meningkatkan kualitas spiritual dalam beragama.

Dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama memiliki arti sistem yang mengatur tata keimanan (Kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia dengan lingkungannya. Jelas bahwa agama merupakan sebuah tuntunan untuk membimbing umat manusia agar menjalankan suatu tatanan kehidupan guna mencapai keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan. Dalam agama Hindu ajaran ini disebut dengan Tri Hita Karana dan tentunya setiap penganut kepercayaan mimiliki tuntunan dengan kitab sucinya masing-masing yang menjadikan hal mutlak kebenaran bagi pemeluknya.

Agama Hindu adalah agama yang berasal dari kata Sindhu dalam bahasa Sanskerta, yaitu nama sebuah sungai di sebelah barat daya Subbenua India. Jelas bahwa Hindu itu sendiri merupakan letak geografis. Inti ajaran agama Hindu yang sebenarnya adalah Sanatana Dharma yang artinya kebenaran abadi dengan sumber tuntunannya adalah kitab suci Weda. Karena kemudian ajaran ini masuk ke Indonesia maka menjadi Hindu Dharma yang proses pelaksanaan yaitu mengejawantahkan dengan ajaran tradisi lokal. Terlepas dari itu semua, ajaran-ajaran Weda juga tetap dijalankan dengan baik. Terbukti bahwa ajaran vasudhaiva kutumbakam secara tidak langsung menjadikan umat Hindu bahkan umat beragama lain ikut mengimplementasikan ajaran ini untuk dapat menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia. Berikut adalah salah satu contoh penerapan ajaran vasudhaiva kutumbakam:




Gambar 1. Peradah Bagi-bagi takjil saat menjelang berbuka puasa umat Muslim

(Sumber foto : Dok.Penulis)

Jika ajaran vasudhaiva kutumbakam diselami lebih dalam lagi, maka kegiatan yang dilakukan oleh umat manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda tidak semata-mata hanya menunjukkan wujud toleransi saja. Lebih dari itu manusia menganggap bahwa semua mahkluk adalah saudara. Seperti halnya manusia menolong saudara dekatnya bukan karena toleransi tapi karena suatu keseharusan. Semua mahkluk sama. Sama-sama mewujudkan bentuk kesetaraan umat manusia maupun mahkluk hidup yang lain lebih dari karena perbedaan. Semua mahkluk bersaudara bukan lagi sekadar wujud toleransi perbedaan. Menyayangi hewan maupun tumbuhan juga termasuk ajaran vasudhaiva kutumbakam, karena hewan dan tumbuhan juga mahkluk hidup. Hal-hal semacam ini merupakan sebuah keseharusan yang harus dilakukan bagi semua umat manusia.

Sebagai generasi Hindu dengan memahami bahwa implementasi ajaran vasudhaiva kutumbakam tidak hanya sebagai wujud toleransi karena perbedaan saja. Lebih dari itu, hal kebaikan adalah suatu keseharusan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Terdapat berbagai macam-macam agama, suku, ras dan budaya. Ajaran vasudhaiva kutumbakam merupakan ajaran yang sangat relevan untuk diterapkan. Dengan menerapkan ajaran vasudhaiva kutumbakam, akan menciptakan generasi hindu sebagai benteng terdepan untuk menjaga kehidupan Bangsa Indonesia yang Multikultural.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adawiyah, R., Mansur, M., & Handayani, T. (2019). Analisis Penerapan Pendidikan Multikultural Dalam Menciptakan Toleransi Antar Umat Beragama DI SMP IMMANUEL BATU. Jurnal Civic Hukum, 4(1), 29. Tersedia pada: https://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/1310762/diakses 28 April 2021

Agama (Def. 1)(n.d). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. Diakses melalui: https://kbbi.web.id/agama, 28 April 2021

Kamaruddin, & Sabannur. (2018). Toleransi Antar Umat Beragama Penganut Islam dan Hindu-Dharma Di Desa Toabo Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju. Jurnal Sosial dan Agama, 5(1), 77. Tersedia pada: http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/adyan/article/view/10003/6926/diakses 28 April 2021

 

 

 

 

 

Friday, 1 January 2021

MOMENTUM PELAKSANAAN MODERASI BERAGAMA HINDU PADA MASA PANDEMI COVID-19

 

Oleh : Rino Susilo


Munculnya pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) telah mengguncang seluruh wilayah Indonesia bahkan dunia yang tak kunjung usai dan belum ditemukan obatnya hingga saat ini. Pemerintah menyerukan aturan-aturan kebijakan dengan istilah sosial distancing hingga PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Masyarakat diminta untuk berdiam diri dirumah (stay at home), siswa belajar dari rumah (study at  home), kerja dari rumah (work from home), dan berdoa dari rumah (pray at home). Namun kebijakan ini tidak sedikit dari masyarakat yang menentangnya. Banyak dari masyarakat yang mengeluh karena sumber penghasilannya memaksakan mereka harus keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan anak-anaknya yang sekolah karena memerlukan kuota internet. Misalnya saja dilansir dari radarbali.jawapos.com wisatawan mancanegara yang datang minus 99,93 % pada bulan April 2020 dibandingkan dengan bulan Maret 2020. Bali yang menjadi salah satu pendorong perekonomian menurun drastis yang sebelumnya ramai wisatawan datang dari berbagai negara nampak terlihat sangat sepi. Sehingga pedagang kehilangan pembeli. Seruan beribadah dari rumah juga menjadi permasalahan karena dianggap dapat mengurangi kadar keimanan. Pemandangan-pemandangan kegiatan umat beragama terlihat berbeda dari sebelumnya, tempat-tempat ibadah terlihat seakan-akan tidak memiliki umat. Tempat perziarahan besar seperti  Ka’bah yang tiba-tiba sepi bahkan suatu hari tertentu Ka’bah menjadi kosong tak memiliki pengunjung. Untuk mengatasi permasalahan ini akhirnya pemerintah memutuskan kebijakan baru yaitu dengan melaksanakan tatanan kehidupan yang berbasis adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan rajin berolahraga agar menjaga imun tubuh, sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun, keluar rumah harus memakai masker, dan menghindari kerumunan orang. Hal inilah yang kemudian disebut dengan era new normal atau normal baru

Walaupun demikian, pemandangan awan mendung yang berarak masih membawa tangis resah dan juga lapisan ozon semakin menipis dari hari demi hari tergerus oleh waktu akibat ulah sang penguasa nafsu material yang tidak mau bersahabat dengan alam. Hal ini telah memperlihatkan kondisi bumi sedang mengalami masalah. Tanpa disadari bersama, dalam kondisi pandemi COVID-19 ini telah menyadarkan bahwa sebagai umat beragama harus menjalankan dharma yang baik agar lebih dekat kepada Sang Pencipta. Semua agama terkena dampak dari wabah ini dan sudah saatnya diperlukaan sebuah moderasi beragama guna bersama-sama menghadapinya. Patut dipahami bahwa dari segala bentuk ujian yang mengakibatkan dampak buruk bagi kehidupan manusia, pasti menyimpan dampak positif . Nampaknya dalam ajaran agama Hindu istilah Rwa Bhineda kembali digunakan. Oleh karena itu, inilah yang perlu diselami lebih dalam lagi apa manfaat dari segi positifnya yang dapat diperoleh.

Jika dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama memiliki arti sistem yang mengatur tata keimanan (Kepercayaan) dan peribadatan kepada T uhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia dengan lingkungannya. Ada sebuah tuntunan untuk membimbing umat manusia agar menjalankan suatu tatanan kehidupan guna mencapai keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan. Itulah yang disebut dengan ajaran Tri Hita Karana dalam kitab suci Hindu dan tentunya setiap penganut kepercayaan mimiliki tuntunan dengan kitab sucinya masing-masing yang menjadikan hal mutlak bagi pemeluknya.

Agama Hindu adalah agama yang kental dengan banten dan upacara . Jadi tidak heran jika segala bentuk kegiatan keagamaan pasti menggunakan banten dan upacara yang besar guna menunjukkan bukti rasa bhakti kepada Tuhan  yang telah memberikan anugrah dan karunia yang tiada batasnya. Namun dalam kondisi pandemi seperti ini, menyebabkan ekonomi semakin mencekik. Kebutuhan finansial semakin tinggi yang tidak seimbang dengan penghasilan. Kegiatan upacara yang besar jarang terlihat lagi dan terlihat seolah-olah semakin tidak relevan lagi jika upacara besar dilaksanakan. Virus Corona seperti mengajarkan kembali konsep Tiga Kerangka Dasar agama Hindu yaitu Tattwa , Susila dan Upacara harus berjalan dengan seimbang. Tingkatan yadnya yaitu Nista Yadnya, Madya Yadnya dan Utama Yadnya penting sekali dipahami untuk menyesuaikan kondisi pandemi seperti ini. Disadari atau tidak, mau tidak mau selama ini umat Hindu terjebak pada banten dan upacara saja. Terkesan memaksakan jika semestinya tidak mampu dilakukan. Fenomena-fenomena diluar nalar yang menyebabkan kegaduhan pasti dikaitkan dengan Niskala yang berhubungan dengan upacaranya. Padahal dalam hal ini tidak ada yang salah dengan upacaranya. Dilihat dari segi pemahaman susila, bahwa segala bentuk fenomena ini adalah ulah dari karma atau tingkah laku yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Tanah longsor terjadi karena manusia yang mengikuti nafsunya untuk menebang pohon sembarangan. Banjir tidak akan terjadi jika manusia mau menjaga alam dengan baik dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak membangun pemukiman dipinggir sungai, dan perbuatan-perbuatan lain yang merugikan alam. Manusia akan terhindar dari virus corona jika mereka mau bersama-sama patuh dan taat pada aturan-aturan pemerintah. Selalu menjaga jarak jika berkumpul dengan orang banyak, mencuci tangan sesering mungkin, dan selalu menggunakan masker. Kalau seseorang terdidik sampai kesadaran dalam beragama dan bertindak secara tegas menurut prinsip kesusilaan,  maka orang tersebut tergolong orang yang sangat cerdas dalam beragama. Atas dasar tattwa yang diyakini sebagai umat Hindu, penting sekali untuk selalu mencakupkan tangan dan rajin bersembahyang kepada Ida Hyang Widhi Wasa. Melaksanakan puja Tri Sandya dengan tulus serta memohon perlindungan dan keselamatan, astungkara dengan cara seperti ini diharapkan wabah COVID-19 cepat berlalu.

Proses memahami serta mengamalkan ajaran-ajaran sastra suci dalam kondisi pandemi COVID-19 harus dilaksanakan dengan benar. Suasana pikiran yang tulus dalam pelayanan bhakti harus ditingkatkan agar tidak menyimpang dari ajaran dharma. Maka dari itu diperlukan sebuah moderasi beragama atau pandangan yang tidak berlebihan untuk mendukung pelaksanaan dharma di era new normal. Mengingat tujuan agama Hindu adalah moksartham jagadhita ya ca iti dharma yang artinya tujuan hidup yaitu kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia maupun di alam moksa (Bersatunya atman dengan Brahman). Oleh sebab itu pelepasan ikatan duniawi  perlu ditanam dalam jiwa(atman) sejak dini agar terus merasakan kebahagiaan rohani. Ada hal yang sangat relevan harus dilakukan dalam moderasi beragama Hindu di era new normal yang dikutip dalam sastra suci weda:

Bhagawad Gita X.25

Maharsinam bhrgur aham

Giram asmy ekam aksaram

Yajnanam japa yajno smi

Sthavaranam himalayah

Artinya :

Di antara maharsi Aku adalah Bhrgu; di antara ucapan suci, Aku adalah Omkara; Di antara yajna, Aku adalah Japa mantra , di antara benda-benda tak bergerak Aku adalah Himalaya.

Jika diperhatikan tanpa berspekulasi, dengan jelas sloka tersebut mengatakan “ Di antara yajna, Aku adalah Japa mantra ”. Jelas bahwa di antara korban-korban suci yajna Aku (Tuhan Yang maha Esa) adalah ucapan-ucapan nama-nama suci Tuhan atau Japa. Bhagawad Gita menegaskan bahwa diantara segala jenis korban suci, pengucapan nama-nama suci itulah yang paling utama. Proses pengucapan nama-nama suci Tuhan yaitu dengan menggunakan rudraksa atau kayu tulasi/neem. Nama-nama suci Tuhan yang dapat diucapkan secara berulang-ulang seperti om  nama siwaya, om namo bhagawate vasudevaya.Om namo Narayana ya,  Om sri laksmi, dan masih banyak lagi nama kepribadian agung yang dapat diucapkan sesuai dengan rasa atau kepuasan untuk meningkatkan rasa bhakti /ikatan kuat kepada Tuhan dan mencapai kebahagiaan rohani. Selain itu dalam Manawa Dharma Sastra IV.23 juga menyebutkan “ Yang mengetahui bahwa yajna yang dilakukan dalam ucapan dan dalam nafas mereka akan memberi pahala yang tak terhancurkan; dan yang selalu mempersembahkan nafas mereka dalam ucapan mereka dan ucapan-ucapan pada nafas mereka ”. Dalam Bhagawata Purana, Naradya Purana dan masih banyak lagi sastra-sastra suci weda yang menegaskan pentingnya mengucapkan nama suci Tuhan. Kembali dugaan umat Hindu yang hanya fokus pada yadnya-yadnya saja yang diutamakan. Oleh karena itu sloka-sloka tersebut merupakan solusi untuk menjawab pelaksanaan dharma yang relevan pada masa pandemi COVID-19 ini.

Melihat momentum perubahan besar dalam kegiatan beragama, membiasakan diri dengan upacara yadnya yang sederhana tanpa mengurangi kualitasnya. Mulai berpandangan bahwa pentingnya moderasi beragama Hindu yaitu tidak hanya dengan banten dan upacara-upacara saja, namun harus seimbang dengan meningkatkan tattwa membaca kitab suci itu sangat penting dilakukan agar umat Hindu memiliki acuan atau tuntunan dalam menghadapi masalah-masalah yang ada. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan disebut dengan kebahagiaan rohani, walaupun barangkali diperlihatkan dengan berbagai cara namun tujuannya tetap sama. Oleh karena itu, Tuhan sudah memberikan wahyu suci yang tertulis pada sastra suci weda dengan murah hati menuntun umat-Nya serta menjaga mereka agar tetap pada jalan yang progresif untuk kembali pulang kepada Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Referensi

 

Gede Pudja. Bhagawad Gita. Hal 261

Gede Pudja. Manawa Dharma Sastra(Weda Smerti). Hal 122

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Suwanto, A. (2020, Juni Minggu). Potensi Resesi Ekonomi Bali Akibat pandemi Covid-19. Retrieved from radarbali.jawapos.com: https://radarbali.jawapos.com/read/2020/06/28/201361/potensi-resesi-ekonomi-bali-akibat-pandemi-covid-19/diakses pada tanggal 14 November 2020

 

 

Wednesday, 23 October 2019

Jangan Merasa Paling Menderita

(Cerpen)



      Tatkala senja membangunkanku dengan paksa dari tidur siangku yang sangat lelap. Harianku sering kusebut dengan hari yang penuh kebingungan. Semakin keras aku memikirkannya, dukalah yang menghampiri. Bermusuhan terlalu berlebih dengan tubuh, sehingga menjadikan rasa resah dan gelisah. Secangkir air putih segera kuteguk untuk membangunkan jiwa yang lemah ini agar segera bangkit dari keterpurukan. Ditengah lingkungan penuh jiwa yang terikat sifat-sifat yang terkadang menghibur kadang kala juga menyinggung.
       Belajar dari kisah-kisah seseorang yang dapat menggugah jiwa lemah ini untuk bangkit dan segera membuat hal baru yang menguntungkan. Karena kusadari bahwa penderitaan tak akan pernah berakhir jika pikiran terus berprasangka buruk terhadap kehidupan. Merasa paling menderita dari semua orang yang aku pikir itu hanyalah dugaanku sendiri. Mencoba membuat segala sesuatu menjadi baik dengan mencontoh pohon cendana yang selalu mengeluarkan aroma harum ketika dipotong. Seperti halnya manusia semakin dihina dicaci dimaki, balaslah dengan rendah hati tanpa dendam. Jangan menjadikan diri menjadi korban dan jangan menjadikan mereka menjadi musuh. Mencoba membuat keadaan damai dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dan cobalah mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan untuk menciptakan kedamaian dalam setiap perbuatan.

Sunday, 15 July 2018

Silsilah Peradaban Hindu Petak 8 Sumbermanggis





Halo sahabat Hindu, disini saya akan membahas mengenai silsilah peradaban umat hindu yang ada di petak 8 Sumbermanggis secara singkat. Cerita ini saya dapatkan hasil dari wawancara Bapak Suwono selaku Ketua RT petak 8 beragama Hindu di acara Sadana Camp yang dilaksanakan oleh peradah Banyuwangi.
 Minggu 8-10 Juni 2018, organisasi peradah Banyuwangi mengadakan kegiatan sadana camp yang dilaksanakan di petak 8 Dusun Sumbermanggis, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi. Petak 8 memiliki peradaban umat Hindu yang terletak di tengah hutan kaki Gunung Keraton yang memiliki banyak misteri dan peninggalan benda bersejarah. Tahun 1965, pertama kalinya dibuka lahan untuk mendirikan sebuah pura umat Hindu petak 8 memiliki tempat ibadah sendiri. Pembangunan tersebut dilaksanakan oleh para leluhur petak 8 yang beragama Hindu. Kondisi pura saat itu, masih berupa padma sari dan dilindungi pagar yang terbuat dari bambu (betek). Namun, pada tahun 1988 umat hindu petak 8 mengalami pasang surut dalam menjalankan ibadah di pura. Jarang sekali umat hindu yang mau bersembayang dan mengikuti upacara agama. Hal ini dikarenakan rendahnya pengetahuan tentang cara bersembahyang dan ajaran-ajaran Hindu. Mendengar hal ini, bapak Saiman selaku kepala Dusun Sumbermanggis dan beragama Hindu, datang untuk memberikan motivasi dan mengajarkan ajaran-ajaran hindu untuk menumbuhkan srada dan bakti terhadap ajaran agama hindu. Seiring berkembangnya waktu, pada tahun 2005 umat hindu dari Bali memberikan donatur untuk membangun pura. Setelah itu ditemukanlah tempat untuk mendak tirta yang bertempat disekitar Gunung Keraton yang kemudian disebut dengan sumber beji. Sumber beji ini merupakan sumber mati air yang dulunya digunakan untuk air minum dan kebutuhan sehari-hari masyarakat petak 8. Disekitar wilayah gunung Keraton banyak ditemukan benda-benda bersejarah yang ditemukan oleh umat hindu petak 8 sendiri , seperti Bajra, gong, kempul, saron, piring berlapis emas, dan masih banyak lagi benda bersejarah lainnya. Benda tersebut ditemukan dalam kondisi masih utuh dan ada yang sudah berkarat. Saat ini keadaan benda tersebut masih dirawat oleh umat hindu di petak 8. Adapun penemuan sebuah padmasari di lereng Gunung Keraton dan ada pohon beringin besar yang dipercayai ada seseorang yang sedang bersemedi didalamnya. Saat ini jumlah umat hindu dipetak 8 berjumlah 22 KK. Ini masih lebih sedikit dari pada umat lain seperti umat Islam dan Kristen. 



Nb: yang penasaran silahkan datang ya, mari kita melihat perkembangan agama Hindu dipelosok tengah-tengah Hutan Sumbermanggis..👦