Monday, 14 April 2025

MASJID TUA

 Oleh : Kevin, Rino Susilo

Byur...byur...byur...!!! Terdengar suara anak-anak penuh kebahagiaan, sudah lama tak berenang mandi di kolam dan sangat ceria menikmati masa kecil yang indah. Mereka menilai kolam itu dapat memberikan kenangan yang tak bisa dilupakan dengan mudah. Sesudah puas mereka melanjutkan mandi dan segera beranjak bersiap-siap untuk solat berjamaah di masjid samping kolam tersebut. Masjid itu sudah tua, terdapat pohon belimbing dan sawo becik yang masih bertengger kokoh menghiasi lingkungannya. Tidak menjadi hal yang mengganggu bagi siapapun. Burung-burung trocok bernyanyi sangat indah disana. Suaranya berkicau adu kemerduan. Apa yang mereka inginkan? entahlah, seolah-olah itulah tempat nyaman dan aman baginya, hingga tak terasa pagi segera tiba. 

 Ketika masjid yang tidak merencanakan pertemuan orang-orang. Tiba-tiba subuh dini hari ketika terdengar suara adzan oleh kiai dimasjid itu, menarik empat musafir bernama Rido, Hasan, Mifta, dan Abdul. Mereka behenti dan menjadikan masjid itu untuk solat subuh. Walau sedikit jamaah, mereka tetap berupaya mengerahkan segenap pikiran dan hatinya hanya kepada sang Pencipta. Tidak ada angin tidak ada hujan. Hal yang tidak terduga terjadi! 

 “eq..eq.. la...i lahaill..allah muham..madarrasulu.llah” terdengar suara rintihan doa dari Kiai. “Ya Allah ada apa ini, tolong-tolong” Hasan panik sambil berusaha membangunkan Kiai. “Bangun pak, Ya Allah, bagaimana ini” Hati Rido berdebar kencang. Mifta dan Abdul berusaha mencari pertolongan kepada orang-orang disekitar. Namun nyawa Kiai sudah tidak tertolong lagi. Kiai telah meninggal dunia di Masjid Tua saat bersujud. 

 Tidak nampak pesan-pesan yang menyedihkan kala itu, tidak ada yang tau rencana ajal tiba. Terdapat seorang didalamnya yang ternyata menjadi akhir di masjid tua itu. Apa yang perlu disesali atas peristiwa ini? Tentu tidak ada, ini sudah menjadi takdir baginya. Semua jiwa akan mati seperti keputusan yang menentukan waktunya. Banyak menyimpan cerita di tempat masjid tua. Namun masjid tetaplah masjid. Sebuah bangunan yang selalu siap menunggu siapapun yang ingin mencari ketenangan, obat kerinduan, pereda kelelahan, serta pelindung bagi orang-orang beriman.  

DUKUNGAN SEORANG IBU

 Oleh : Nimas, Rino Susilo

Hari minggu selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi Nimas. Ia selalu senang jika hari minggu tiba. " Akhirnya libur, seperti biasa bu, yuk berangkat latihan renang", ucap Nimas kepada Ibunya. "Iya nduk, tapi sepertinya mendung dan hujan segera turun", jawaban ibunya kepada Nimas. Dengan penuh permohonan, Nimas kepada Ibunya "ayoklah bu, gpp nanti sambil hujan hujanan lebih seru"."Wah nanti kamu bisa sakit nduk, tapi ya sudah yuk siap-siap". Saking senangnya, Nimas segera melakukan persiapan. Nimas memasukkan baju ganti, sandal dan makanan ringan ke dalam tasnya. 

 Sebelum berangkat cuaca mendung semakin tebal, hujan tak terelakkan dan akhrinya turun juga. Nampak wajah Nimas yang penuh kecewa. Lalu ibu mendekati Nimas. “Bagaimana nduk sekarang hujan deras, main di rumah saja ya”. Nimas terdiam, mata berkaca-kaca sepereti akan menangis menunjukkan kesedihannya. Mengetahui putrinya bersedih, sang ibu pelan-pelan mendekati Nimas "Sudahlah nduk, minggu depan lagi ya"."Hujan ini apa tidak selesai-selesai ya bu?" tanya Nimas. “Sepertinya ini lama nduk, hujannya deras, coba lihat halaman rumah kita kebanjiran. Sebagai gantinya nanti malam kalau hujannya sudah reda kita jalan-jalan beli martabak kesukaanmu saja ya?” tawaran Ibu untuk meredakan kesedihan Nimas. “Kalau tetap hujan gimana bu?” jawab Nimas. Ibunya meyakinkan "Yakin saja nanti pasti hujannya berhenti, berdoa saja ya nduk, sekarang yuk kita belajar melukis. kamu kan juga suka melukis. Coba kamu lukis suasana hujan nduk". Nimas kembali semangat karena melukis juga salah satu hobinya "oh iya bu, sepertinya seru juga melukis disaat seperti ini". " Betul nduk, sekarang ibu ambilkan peralatan lukisnya, kemudian ibu buatkan teh hangat untukmu". " Iya, Trimakasih bu". 

 Sambil menunggu hujan reda, Nimas melukis suasana hujan dan tanpa disadari ia tertidur. Kemudian hal yang diyakini akhirnya terbukti benar. Hujan berhenti ketika sore hari. Ibu melihat Nimas sedang tertidur disamping lukisan yang dibuatnya. Dengan kagum ibunya melihat hasil lukisan putrinya yang luar biasa bagus dan kemudian membangunkan Nimas " Nduk bangun, silahkan mandi sudah sore". Pelan-pelan mata Nimas terbuka " Hujannya sudah reda ya bu?". Sudah nduk. “Lihat bu hasil lukisanku”. " Iya nduk, hasil lukisanmu luar biasa, nanti akan ibu belikan peralatan lukisan yang lebih lengkap nduk agar kreatifitasmu semakin berkembang ". "Siap bu". Tiba-tiba Nimas mengingat sesuatu "oh iya bu kita jadi beli martabak kan?", Ibunya tersenyum dan berkata " wah ingat saja kamu nduk, karena kamu sudah melukis dengan bagus dan anak yang baik serta penurut, yuk kita beli martabak. sekarang mandi dulu ya". Nimas nampak senang dan kegirangan" Yes, SIAP BU".